Awalnya mau bikin tulisan ini dalam bahasa Inggris, tapi biar lebih banyak yang bisa dapat pesannya ya sudah dibuatlah dalam tulisan bahasa Indonesia.
Tulisan ini dibuat setelah beberapa kali saya jalan bareng teman-teman dan sahabat-sahabat saya semasa kuliah. Topik yang kita bahas tidak jauh dari soal krisis ini. Dengan tingkat kejaiman dan pencitraan yg cukup tinggi, saya dikira tidak merasakan krisis ini, padahal.... Hahahaha :v
Kita bahas dulu, A Quarter-Life Crisis itu apa ya? Kalau kata Wikipedia, A Quarter-life Crisis itu perasaan tak nyaman atau tidak aman saat kita memasuki zona “kehidupan nyata” selepas fase sekolah.
Ini pengertian yang paling pas buat saya. Di hari sidang ketika para dosen mengucapkan selamat atas kelulusan saya di tahun 2012, saya bahkan sudah merasakannya. Hidup saya mau dibawa kemana ya? Apa rencana Tuhan atas hidup saya?
Hanya saja, pelarian saya waktu itu adalah fokus mengejar S2 (nanti lebih detail dibahas di Day#3 - My Dream Job). Ketika saya dinyatakan tidak bisa membawa serta Ibu saya (aplikasi family allowance saya ditolak) untuk kuliah di luar negeri, saya kemudian berjanji pada Ibu saya untuk tidak mengambil S2 sebelum bisa mempersembahkan dua hadiah untuk Ibu saya.
Setelah itu, saya melarikan diri untuk fokus bekerja apa saja untuk mewujudkannya. Untuk mempermudah mencapai tujuan, saya juga belajar ilmu investasi. Nah, dari sini, ternyata saya jatuh cinta pada konsep investasi syariah yg membawa saya berkenalan dengan berbagai pakar investasi syariah. Yang paling favorit ya Ustad Yusuf Mansur karena beliau mampu membuat saya mencintai Allah lebih dalam dan melibatkan-Nya dalam berbagai hal.
Saya pikir krisis ini sudah berhenti meneror saya, ternyata tidak. Suatu ketika, saya membuka beberapa sosmed saya, saya melihat teman-teman saya sudah menikah bahkan memasang foto buah hatinya. Saya merasa senang, pada dasarnya saya selalu senang dengan kepolosan anak kecil yg terpancar di mata mereka.
Tapi. Tapi. Tapi.
Saya merasa hilang. Saya merasa seharusnya saya juga sudah punya. Sejak akhir 2013, saya kemudian belajar menata hati dan pikiran saya dalam kontemplasi panjang dan berbagai buku pranikah termasuk buku dari Ustad Felix, @tweetnikah, dan @tausyiahku. Dari sana, saya berkesimpulan bahwa pilihan saya untuk tetap single sampai menikah sudah tepat.
Dari berbagai curhatan yang saya terima soal partner hidup, saya menyimpulkan banyak orang yg terjebak semakin galau di krisis seperempat abad ini karena terlalu fokus mencari yang terbaik tanpa pernah tersadar untuk menyiapkan diri menjadi yang terbaik. Saya juga pernah terjebak di perangkap ini.
Setelah sadar, saya belajar konsep pemantasan diri. Saya ternyata punya banyak sekali keinginan terhadap masa depan saya nanti.
Pertama, saya ingin jadi istri yang bisa diandalkan. Saya ingin pasangan hidup saya nantinya bangga memiliki istri seperti saya. Saya ingin partner hidup saya nantinya tidak menyesal memilih saya. Maka, saya memperbanyak ilmu bagaimana menjadi istri yang hebat dan menghebatkan suami saya dari berbagai perspektif keilmuan: agama, psikologi, manajemen, keuangan, boga, dan lain-lain.
Kedua, saya ingin jadi menantu terbaik. Saya ingin mertua saya tidak merasa kehilangan anak mereka. Saya ingin bisa membahagiakan mereka sebagaimana saya selalu berusaha membahagiakan kedua orang tua saya. Saya banyak belajar dari berbagai kisah dan bacaan mengenai hubungan menantu dan mertua.
Ketiga, saya ingin jadi Ibu terbaik untuk anak-anak saya nantinya. Maka, saya banyak membaca buku parenting, mengambil banyak kelas yang fokus mengajar anak-anak, banyak bertukar pikiran dengan para orang tua mengenai anak mereka. Saya juga tak segan menghadiri kelas atau seminar parenting sekalipun saya akan aneh sendiri karena biasanya hanya saya peserta yang masih lajang -__-
Last but not least, saya tetap ingin jadi anak yang berbakti pada kedua orang tua saya terutama Ibu saya. Sampai kapanpun, pengorbanan dan seluruh waktu Ibu saya yang sudah beliau dedikasikan untuk saya tidak akan pernah bisa saya balas dengan apapun. Suatu saat nanti, saya tetap akan berusaha berbakti pada beliau meski surga sudah berpindah ke telapak kaki suami saya.
Menyadari banyak hal yang saya inginkan ini cukup mengurangi rasa galau saya di masa krisis ini. Yang selalu saya ingatkan kepada diri saya: selalu libatkan Allah, siapkan diri, nikmati proses, dan berbahagialah bila sudah tiba saatnya.
Kesimpulan dari cerita panjang di atas - saya tidak mau berfokus pada rasa galau dan tertekannya saya di masa transisi ini, saya ingin berfokus pada bagaimana saya melewati dan mengisi hari-hari saya dengan:
- Memperdalam ilmu agama (ini proses wajib seumur hidup).
- Selalu libatkan Allah dalam berbagai hal (ini juga wajib).
- Memperbanyak ilmu pranikah melalui buku, artikel, dan seminar.
- Mendalami ilmu investasi biar nanti bisa mengatur keuangan keluarga.
- Belajar memahami diri sendiri dan orang lain.
- Belajar ilmu parenting.
- Bersyukur dan berterima kasih pada Allah untuk yg sudah dikaruniakan-Nya, jangan hanya fokus pada apa yang belum diberikan-Nya.
- Belajar fokus pada perbaikan diri ke arah yang lebih baik.
Intinya, di masa krisis seperempat abad ini, saya mengingatkan ke diri saya sendiri untuk lebih fokus ke belajar dan belajar, bukan ke perasaan tertekan yang sedang saya alami di masa transisi ini.
Selamat belajar, saya!
Tulisan ini dibuat setelah beberapa kali saya jalan bareng teman-teman dan sahabat-sahabat saya semasa kuliah. Topik yang kita bahas tidak jauh dari soal krisis ini. Dengan tingkat kejaiman dan pencitraan yg cukup tinggi, saya dikira tidak merasakan krisis ini, padahal.... Hahahaha :v
Kita bahas dulu, A Quarter-Life Crisis itu apa ya? Kalau kata Wikipedia, A Quarter-life Crisis itu perasaan tak nyaman atau tidak aman saat kita memasuki zona “kehidupan nyata” selepas fase sekolah.
Ini pengertian yang paling pas buat saya. Di hari sidang ketika para dosen mengucapkan selamat atas kelulusan saya di tahun 2012, saya bahkan sudah merasakannya. Hidup saya mau dibawa kemana ya? Apa rencana Tuhan atas hidup saya?
Hanya saja, pelarian saya waktu itu adalah fokus mengejar S2 (nanti lebih detail dibahas di Day#3 - My Dream Job). Ketika saya dinyatakan tidak bisa membawa serta Ibu saya (aplikasi family allowance saya ditolak) untuk kuliah di luar negeri, saya kemudian berjanji pada Ibu saya untuk tidak mengambil S2 sebelum bisa mempersembahkan dua hadiah untuk Ibu saya.
Setelah itu, saya melarikan diri untuk fokus bekerja apa saja untuk mewujudkannya. Untuk mempermudah mencapai tujuan, saya juga belajar ilmu investasi. Nah, dari sini, ternyata saya jatuh cinta pada konsep investasi syariah yg membawa saya berkenalan dengan berbagai pakar investasi syariah. Yang paling favorit ya Ustad Yusuf Mansur karena beliau mampu membuat saya mencintai Allah lebih dalam dan melibatkan-Nya dalam berbagai hal.
Saya pikir krisis ini sudah berhenti meneror saya, ternyata tidak. Suatu ketika, saya membuka beberapa sosmed saya, saya melihat teman-teman saya sudah menikah bahkan memasang foto buah hatinya. Saya merasa senang, pada dasarnya saya selalu senang dengan kepolosan anak kecil yg terpancar di mata mereka.
Tapi. Tapi. Tapi.
Saya merasa hilang. Saya merasa seharusnya saya juga sudah punya. Sejak akhir 2013, saya kemudian belajar menata hati dan pikiran saya dalam kontemplasi panjang dan berbagai buku pranikah termasuk buku dari Ustad Felix, @tweetnikah, dan @tausyiahku. Dari sana, saya berkesimpulan bahwa pilihan saya untuk tetap single sampai menikah sudah tepat.
Dari berbagai curhatan yang saya terima soal partner hidup, saya menyimpulkan banyak orang yg terjebak semakin galau di krisis seperempat abad ini karena terlalu fokus mencari yang terbaik tanpa pernah tersadar untuk menyiapkan diri menjadi yang terbaik. Saya juga pernah terjebak di perangkap ini.
Setelah sadar, saya belajar konsep pemantasan diri. Saya ternyata punya banyak sekali keinginan terhadap masa depan saya nanti.
Pertama, saya ingin jadi istri yang bisa diandalkan. Saya ingin pasangan hidup saya nantinya bangga memiliki istri seperti saya. Saya ingin partner hidup saya nantinya tidak menyesal memilih saya. Maka, saya memperbanyak ilmu bagaimana menjadi istri yang hebat dan menghebatkan suami saya dari berbagai perspektif keilmuan: agama, psikologi, manajemen, keuangan, boga, dan lain-lain.
Kedua, saya ingin jadi menantu terbaik. Saya ingin mertua saya tidak merasa kehilangan anak mereka. Saya ingin bisa membahagiakan mereka sebagaimana saya selalu berusaha membahagiakan kedua orang tua saya. Saya banyak belajar dari berbagai kisah dan bacaan mengenai hubungan menantu dan mertua.
Ketiga, saya ingin jadi Ibu terbaik untuk anak-anak saya nantinya. Maka, saya banyak membaca buku parenting, mengambil banyak kelas yang fokus mengajar anak-anak, banyak bertukar pikiran dengan para orang tua mengenai anak mereka. Saya juga tak segan menghadiri kelas atau seminar parenting sekalipun saya akan aneh sendiri karena biasanya hanya saya peserta yang masih lajang -__-
Last but not least, saya tetap ingin jadi anak yang berbakti pada kedua orang tua saya terutama Ibu saya. Sampai kapanpun, pengorbanan dan seluruh waktu Ibu saya yang sudah beliau dedikasikan untuk saya tidak akan pernah bisa saya balas dengan apapun. Suatu saat nanti, saya tetap akan berusaha berbakti pada beliau meski surga sudah berpindah ke telapak kaki suami saya.
Menyadari banyak hal yang saya inginkan ini cukup mengurangi rasa galau saya di masa krisis ini. Yang selalu saya ingatkan kepada diri saya: selalu libatkan Allah, siapkan diri, nikmati proses, dan berbahagialah bila sudah tiba saatnya.
Kesimpulan dari cerita panjang di atas - saya tidak mau berfokus pada rasa galau dan tertekannya saya di masa transisi ini, saya ingin berfokus pada bagaimana saya melewati dan mengisi hari-hari saya dengan:
- Memperdalam ilmu agama (ini proses wajib seumur hidup).
- Selalu libatkan Allah dalam berbagai hal (ini juga wajib).
- Memperbanyak ilmu pranikah melalui buku, artikel, dan seminar.
- Mendalami ilmu investasi biar nanti bisa mengatur keuangan keluarga.
- Belajar memahami diri sendiri dan orang lain.
- Belajar ilmu parenting.
- Bersyukur dan berterima kasih pada Allah untuk yg sudah dikaruniakan-Nya, jangan hanya fokus pada apa yang belum diberikan-Nya.
- Belajar fokus pada perbaikan diri ke arah yang lebih baik.
Intinya, di masa krisis seperempat abad ini, saya mengingatkan ke diri saya sendiri untuk lebih fokus ke belajar dan belajar, bukan ke perasaan tertekan yang sedang saya alami di masa transisi ini.
Selamat belajar, saya!